|
|
Home |
|
Mengungkap Kembali Hubungan Darah Bima-Bugis-Makassar |
|
|
|
|
Tuesday, 18 March 2008 |
(Sebuah Pengantar untuk Kegiatan Refleksi Lintas Budaya Bima-Bugis-Makassar 2008)
Tulisan ini merupakan pengantar dari sebuah rencana kegiatan besar yang sebenarnya diadakan pada tahun lalu (2007) di Makassar. Namun karena kendala lain hal, maka kegiatan tersebut ditunda hingga 2008 dan kini menjadi Agenda teman-teman Tambora Study Club Makassar bersama pemerintah Kab dan Kota Bima untuk melaksanakannya di Bima sebagai Pra dari sebuah Event Budaya Nasional pada Agustus 2008 di Kab Gowa Sulawesi Selatan. Yaitu Festival Budaya Nusantara. Kegiatan yang ber-Title-kan “Refleksi Lintas Budaya Bima – Bugis – Makassar II” ini untuk menggugah kembali insting para actor dan pewaris budaya Bima dan Bugis – Makassar atas hubungan Darah yang terjalin selama 200 tahun.
Comments (6) |
|
Last Updated ( Tuesday, 18 March 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Asal Usul Masyarakat Bima |
|
|
|
|
Tuesday, 11 March 2008 |
Dikutip dari www.sumbawanews.com
----------------------------------------
ASAL USUL MASYARAKAT BIMA (DOU MBOJO)
Oleh : Zainudin
Kandidat Magister pada Ilmu Politik UGM Yogyakarta
Kelahiran Ncera, Bima, NTB
Masyarakat Bima yang sekarang kita kenal merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis dan budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pembentukan masyarakat Bima yang lebih dominan adalah berasal dari imigrasi yang dilakukan oleh etnis di sekitar Bima. Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di Bima, maka tak heran agama pun cukup beragam meskipun 90% lebih masyarakat Bima sekarang beragama Islam. Untuk itu, dalam pembahasan berikut akan kita lihat bagaimana keragaman masyarakat Bima tersebut, baik dilihat dari imigrasi secara etnis/budaya maupun secara agama/kepercayaan.
Comments (5) |
|
Last Updated ( Thursday, 13 March 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Menggugat Kesenjangan Elite dan Massa |
|
|
|
|
Monday, 25 February 2008 |
|
Oleh : Rangga
PANGGUNG politik sedang digelar, para politisi menjadi pelakon utama. Seputar waktu penyelenggaraan Pilkada Kota Bima dan Pilgub NTB, rakyat berperan penting. Selebihnya, dikotomi digariskan tegas antara kalangan elite dan massa rakyat alias antara sang pemain dan si penonton. Perbedaan dikotomis ini menunjukkan, kalangan elite berperan aktif untuk mempertahankan, bahkan memperbesar sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Kesenjangan terjadi ketika kalangan elite begitu mudah terlupa memerhatikan massa atau konstituen yang meminjamkan mandat melalui pemilu. ebagai konsekuensi atas peminjaman mandat itu, rakyat berhak memperoleh laporan akuntabilitas secara periodik. Pemain akan "terbebas" dari penonton jika kontrol rakyat sebagai pemilik kedaulatan hilang. Akibatnya, akuntabilitas sistem politik merosot tak terhindarkan.
Seorang teman mengundang saya dalam sebuah diskusi, pada saat itu teman penulis menjadi panelis dalam diskusi Harian Fajar Makassar. Dia menekankan bahwa, “…Demokrasi adalah proses untuk memastikan korespondensi antara substansi yang dipikirkan dan ditentukan oleh pembuat kebijakan dengan persepsi dan kehendak masyarakat…”
Berkait dengan upaya mempertemukan kebijakan dengan kebutuhan masyarakat itu, dituntut kemampuan pemerintah untuk menyelenggarakan pemerintahan berdasarkan desain program. Ketidakjelasan kaitan antara ide atau program yang dirumuskan dan siapa yang akan mengusung program itu terlontar dalam diskusi tersebut.
Be first to comment this article |
|
Read more...
|
|
|
Selingkuh Menjadi Budaya Selingan |
|
|
|
|
Monday, 18 February 2008 |
|
oleh : Rangga
Ketua Umum Tambora Study Club (TSC) Makassar
kelompok Pengkaji EKOPOLSOSBUD daerah Bima - NTB
Tulisan ini adalah sekedar goresan emosional saya pada tahun lalu, mungkin masih hingga tahun ini tentang realitas penyimpangan sosial di Dana Mbojo. saya pernah mengirimnya juga di website Sumbawanews. tapi tidak ada yang mengomentarinya, padahal saya sedang berusaha untuk men-curhat-kannya. walaupun tulisan dibawah ini sudah usang namun saya yakin fenomenanya masih masih dianggap baru. dibagian akhir setelah tulisan ini saya sempat meng-up date kasus terbaru yang terjadi di Dana Mbojo. Selamat membaca dan berharap untuk dikomentari.
Membaca Opini dengan judul 'Selingkuh' oleh Website ini (posting: admin) saya jadi kikuk menjadi manusia sekaligus putra Dana Mbojo yang terbilang sebagai daerahnya para ksatria (Baca: Dana Mbojo, Dana Mbari : N Marewo) yang selalu didoktrin dengan slogan 'Maja Labo Dahu' oleh kabupaten Bima dan 'katadapu ma tedi, katedi pu ma tada' oleh Kota Bima. Lantas dimana 'maja' (Malu), dimana 'Dahu'(takut), apa yang mesti di 'katada' (nampakkan), kenapa 'katedi' (yang baik) menjadi 'kamaja' (memalukan) ketika perselingkuhan merajalela dinadi para elit birokrat dan elit sosial masyarakat ?. Mohon maaf - saya sedang bermain-main dengan otak kiri saya. sekiranya ada yang tersinggung, saya pikir itu hal yang wajar karena ke-normal-an kita sebagai manusia biasa.
Comments (9) |
|
Last Updated ( Monday, 18 February 2008 )
|
|
Read more...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 Next > End >>
| | Results 1 - 9 of 14 |
|
|
|
NewsFlash |
Hallo,
Warga Bima dimanapun berada, kami dari bimacenter.com & milist
samadaangi bermaksud mendirikan Perpustakaan di Bima, tepatnya di Godo.
Kepengurusan dll, sedang di bahas di milist bimacenter. Tapi kami sudah
siap menerima apabila ada cina ro angi yang mau menyumbangkan buku-buku
untuk koleksi perpustakaan tersebut. Untuk info lebih lanjut hub. Bp.
Haer Talib di 0818789641 atau Dewi di 99952539.
|
|
|
|
|