|
Wednesday, 10 March 2010 |
|
Oleh : Rangga
Seakan tak percaya. Tapi itulah kenyataan yang pasti dihadapi dan
dialami oleh seluruh mahluk. Berita duka tentang kematian Bapak H. M.
Nur A. Latief Walikota Bima tersiar begitu cepat sekitar pukul 20.00
Wita di seluruh Kota Bima bahkan di kabupaten Bima pada sabtu
malam(6/3). Pada malam itu, masyarakat kota Bima langsung mendatangi
kediaman Walikota dan memang benar adanya, H. M. Nur A. Latief telah
meninggal dunia. Menurut Informasi yang terhimpun H. M. Nur A. Latief
meninggal dunia karena serangan jantung meski sempat dirawat di Rumah
Sakit Islam Cikini Jakarta.
Sejak malam itu kediaman orang nomor satu di kota Bima itu cukup ramai
dikunjungi oleh keluarga, handai taulan dan warga kota Bima. Mereka
menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas kepergian sosok walikota
yang cukup fenomenal dan dicintai rakyatnya itu. Hari Minggu pagi(7/3)
Jenazah diterbangkan dari Jakarta menuju Bima. Ribuan warga memadati
Bandara Muhamamad Salahuddin Bima menjemput Jenazah. Sekitar pukul
11.45 Wita iring-iringan jenazah meluncur menuju Kota Bima dan
disemayamkan di Kantor Walikota Bima. Tepat memasuki waktu shalat
dzuhur, jenazah dishalatkan di Masjid Baitul Hamid Raba. Ribuan warga
mengantar dan menshalatkan jenazah hingga menuju ke tempat pemakaman
yang berlokasi di halaman rumah almarhum.
| Views: 66 | Print |
|
Last Updated ( Wednesday, 10 March 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Bima Butuh Pemimpin Yang Tepat Untuk Kondisi Yang Tidak Tepat |
|
|
|
|
Monday, 15 February 2010 |
|
Oleh : Subhan*
Pada saat penulis berada di Mataram beberapa minggu yang lalu, Keluarga
dari kampung penulis, yang kebetulan juga berada di Mataram dalam
rangka `jalan-jalan. Meminta kepada penulis untuk membawanya keliling
kota Mataram, melihat kehidupan social masyarakat kota Mataram dari
dekat. Berbagai `warna' kehidupan di'rekam'nya dalam benak dan
sanubari. Setelah puas mengamati dan memperhatikan carut marut
kehidupan perkotaan, sebelum kembali ketempat inapan, penulis diminta
untuk temani singgah di salah satu pusat perbelanjaan kota tersebut. Ia
menuju ke rak penjualan televisi (TV). Ia melihat-lihat tv-tv yang
dijejer. Ia memilih sebuah tv ukuran 21 inc. Harganya tidak masalah,
karena ukurannya sudah disenangi. TV itu dihidupkan untuk dites.
Keluarga dari kampung itu tidak memperhatikan.
Juga, sewaktu penjual menjelaskan beberapa soal teknis TV tersebut. Ia
justru meletakkan sejumlah uang di atas meja, untuk membayar harga TV
yang telah dipilihnya. Penjual memintanya agar pembayaran dilakukan di
bagian kasir. Apa tidak membeli juga antene luar? Tidak perlu, katanya.
Sebab, di kampung warga berlangganan "TV kabel", layanan yang bisa
mengakses banyak sekali jaringan TV dunia.
| Views: 170 | Print |
|
Last Updated ( Monday, 15 February 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Benang Kusut Generasi Pendidik Dikampus STKIP Bima |
|
|
|
|
Friday, 29 January 2010 |
|
Benang Kusut Generasi
Pendidik Dikampus STKIP Bima
(Tanggapan atas berita:
Ciuman, mahasiswa STKIP Bima diusir)
Oleh : Ikhwanuddin*
Sabtu lalu diberitakan melalui
media cetak harian local Bima, -Bima
Ekspres 31/10/2009. "Telah
terjadi `unjuk' kemesraan remaja yang tak terkendali, tak peduli tempat umum
bahkan pada pusat pendidikan sekalipun. Perbuatan itu dipergoki langsung oleh
pihak SMKN 2 Kota Bima" (Bimeks; 28/10/2009). Menyentak kalangan akademisi serta masyarakat pemerhati
pendidikan Bima. Tak terkecuali akademika STKIP Bima yang nota bene sebagai
cikal bakal pendidik generasi.
Pernyataan yang dilontarkan oleh kepala sekolah SMKN
2 Kota Bima, atas dasar telah menangkap
basah (pergok) aksi ciuman sejumlah mahasiswa STKIP Bima yang kuliah (pinjam
pakai) di ruangan SMKN 2 Kota Bima. Bersama sejumlah guru sekolah setempat,
Kepsek langsung mengusir para pembuat `ulah tabu' itu. Sehingga sejumlah guru pengajar
SMKN 2 Kota Bima terpancing amarahnya. sesaat kemudian kepsek SMKN 2 Kota Bima mendatangi
pihak lembaga STKIP Bima dan menegur. Protes
yang dilayangkan oleh kepksek itu diterima oleh Drs. Jasman M.Pd selaku puket
III yang menangani bidang kemahasiswaan.
| Views: 275 | Print |
|
Last Updated ( Friday, 29 January 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
KESRA GURUKU (Rp 4,6 Miliar), RIWAYATMU KINI |
|
|
|
|
Friday, 29 January 2010 |
|
Oleh : Ikhwanuddin*
"Gelar 'pahlawan tanpa tanda jasa' tentu bukan istilah
yang asing lagi di telinga publik. Peran besar seorang guru dalam mencerdaskan
anak-anak bangsa telah tertanam di benak setiap warga sejak di bangku
pendidikan dasar hingga sekolah lanjutan. Tapi bagaimana nasib mereka
sebenarnya? Faktanya, tak semua guru dapat bekerja tenang dengan tingkat
kesejahteraan yang terbatas. Apalagi dengan hanya mengandalkan status sebagai
pegawai honorer, seperti yang dialami oleh para guru Bantu yang ada di Kota
Bima.
Para
founding fathers negeri ini pun (Tempo Duloe) sebagian besar adalah guru
atau setidaknya mengawali kariernya sebagai guru. Sukarno, Presiden pertama RI,
pernah menjadi guru semasa pengasingannya di Bengkulan (sekarang Bengkulu).
Begitu pula dengan Mohammad Natsir, Perdana Menteri Indonesia
pada masa peralihan, adalah guru dan perintis berdirinya sebuah sekolah di Bandung. Soedirman dan
A.H. Nasution adalah jenderal-jenderal yang pernah pula menjadi guru. Soedirman
adalah guru dan kepala salah satu HIS di Cilacap, sedangkan A.H. Nasution pernah
menjadi guru di Bengkulu dan kepala sekolah di Muara Dua, Palembang Hulu. Tidak
dapat disangkal pula di antara tokoh-tokoh itu masih ada RM Soewardi
Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara dan KH Ahmad
Dahlan, seorang guru yang kiai.
Ironisnya, jika di masa lalu seorang
guru bisa berpenghasilan 40 gulden sebulan, sementara sekarang guru yang
mengharap kenaikan gaji atau tunjangan harus berdemo rame-rame ke gedung DPR,
mogok mengajar, atau lebih parah lagi harus ngojek atau jadi tukang batu di
sela-sela waktu luangnya. Sebuah surat
kabar beberapa waktu lalu bahkan secara jelas memberitakan 70 persen pendidik
swasta bergaji di bawah UMR.
| Views: 222 | Print |
|
Read more...
|
|
|
RAPDBD KAB. BIMA 2010 Tidak Berpihak Pada Rakyat |
|
|
|
|
Wednesday, 27 January 2010 |
|
Lembaga Studi Kajian &
Analisis Anggaran (LaSKAR) `BABUJU';
RAPDBD KAB. BIMA 2010 TIDAK BERPIHAK PADA RAKYAT
RAPBD (Rencana Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah) kab Bima untuk tahun Anggaran 2010 yang telah dibahas pada
sidang Paripurna DPRD Kab Bima pada tanggal 16 Desember 2009 sangat tidak
berpihak pada rakyat. Hal ini dapat dilihat dari rencana alokasi Belanja
Langsung dan Belanja Tidak Langsung tahun anggaran 2010.
Belanja daerah terdiri dari dua bagian
seperti tersebutkan diatas, yaitu Belanja Aparatur (Belanja Tidak Langsung) dan
Belanja Pelayanan Publik (Belanja Langsung). Bagian Belanja Aparatur terbagi
kelompok belanja Administrasi Umum, Belanja Operasional & Pemeliharaan dan
Belanja Modal. Sedangkan Belanja Pelayanan Publik, terbagi atas tiga kelompok
seperti Belanja Aparatur, Belanja Bantuan Keuangan dan Bagi Hasil serta Belanja
Tidak Disangka (belanja tak terduga).
Belanja langsung adalah belanja yang
eksistensinya tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya suatu program/kegiatan,
atau bukan merupakan sebuah konsekuensi dari adanya suatu program kegiatan. Belanja ini merupakan belanja yang digunakan
secara bersama-sama (Common Cost)
untuk melaksanakan seluruh program/kegiatan unit kerja, serta digunakan secara
periodik (umumnya Bulanan) dalam rangka koordinasi penyelenggaraan kewenangan
pemerintah daerah yang bersifat umum.
Sedangkan Belanja Langsung adalah belanja yang
eksistensinya dipengaruhi secara langsung oleh adanya suatu program/kegiatan. Karakteristik
dari Belanja Langsung adalah input (alokasi
belanja) yang ditetapkan dapat diukur dan diperbandingkan dengan output yang dihasilkan. tentunya hal ini
untuk kesejahteraan rakyat, karena tuntutan Belanja Langsung adalah belanja
yang segala kosekuensinya mempengaruhi langsung untuk kesejahteraan rakyat. (Dokument Hasil Temuan BPK terhadap
pengelolaan keuangan Kab Bima; 2007)
| Views: 286 | Print |
|
Last Updated ( Wednesday, 27 January 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 46 |